Showing posts with label oase. Show all posts
Showing posts with label oase. Show all posts

29 May 2007

Seperti Keledai Yang Membawa Kitab-Kitab

Saya memandang deretan buku-buku yang saya miliki. Saya memandangnya sambil mengerinyitkan dahi dan merenung sejenak. Setiap bulan saya membeli satu-dua buku, yang memang telah saya anggarkan sebelumnya. Sehingga pada saat ini sudah terkumpul ratusan buku, mulai dari non-fiksi hingga fiksi. Saya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mempunyai sebuah perpustakaan besar berisikan buku-buku bermutu.

Kadang saya membeli buku tapi buku itu tidak langsung saya baca atau paling tidak, sedikit saya baca. Saya tidak menganggap membeli buku sebagai suatu hal yang merugikan, bahkan ia adalah investasi jangka panjang untuk saya. Suatu waktu buku-buku itu saya baca dan menjadi bahan kepustakaan dari tulisan yang saya buat. Dari tulisan itu kemudian saya kumpulkan dan jadilah sebuah buku. Dari buku itu saya mendapat penghasilan tambahan.

Tapi saya sadar, seolah ada beban berat yang menghimpit punggung saya. Saya mengetahui suatu hal, insya Allah saya mendapat pahala dari pencarian ilmu tersebut. Tapi itu belum cukup, ada konsekuensi yang harus saya jalani setelah saya mendapatkan ilmu, yaitu mengamalkannya. Itulah yang menjadi beban saya. Seringkali saya merasa lemah untuk mengamalkan sebuah ilmu, padahal dari sana saya akan mendapat “ilmu baru” yang oleh para ulama sebut sebagai “hikmah”. Seorang ulama pernah mendefinisikan “hikmah” sebagai hasil dari perpaduan antara ilmu dan amal. Orang tidak mungkin mendapatkan hikmah shalat khusyu, sebelum ia sendiri shalat dengan sempurna. Orang tidak mungkin mendapatkan hikmah puasa sebelum ia sendiri berpuasa. Itulah yang menjadi penyebab mengapa peradaban Islam terus berkembang di masa lalu, yaitu berhasil memadukan antara ilmu (theory) dan amal (practic).

Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu dengan amal. Ada konsep “fasiq”, di mana seorang yang – meskipun berilmu tinggi – tetapi berbuat jahat, dapat terkena ketegori fasiq, dan karena itu, periwayatan dan beritanya perlu diklarifikasi. Jika dia fasiq, maka sebagian ulama melarangnya menjadi saksi di dalam pernikahan atau pengadilan.

Di dalam ilmu hadits, ada ilmu Jarah wa Ta’dil, yang secara terbuka membeberkan sifat-sifat buruk perawi hadits, seperti pembohong, dan sebagainya. Karena itu, di dalam tradisi keilmuan Islam, kita akan menjumpai ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus juga sangat shalih dalam beragama. Itu bisa kita jumpai pada Imam-imam mazhab, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga mujahid dan ahli ibadah.

Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem keilmuan di Barat yang sekular. Di dalam tradisi ilmu yang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, ada pemisahan antara orang pintar dan orang saleh.

Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh masyarakatnya, meskipun amalnya bejat. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting madman). Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens.

Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius dan peraih Nobel Sastra tahun 1954, tidak memiliki agama yang jelas dan ia ditemukan mati bunuh diri. Foucoult, ilmuwan yang sangat dikagumi aktivis Islam Liberal, adalah ilmuwan yang suka main perempuan dan mabuk-mabukan.
Islam jelas sangat berbeda dengan agama yang lain, misalnya Yahudi. Islam sangat menghargai orang yang menuntut ilmu sekaligus orang yang mengamalkannya. Di dalam agama Yahudi, mempelajari ilmu itu memang suatu kewajiban bagi mereka, sehingga sangat banyak orang-orang Yahudi luar biasa cerdasnya, sebut saja, misalnya, Albert Einstein. Namun mereka kerap tidak mengamalkan ilmu yang mereka miliki untuk kebaikan. Mereka mengetahui Taurat, tetapi mereka tidak mengamalkannya.

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 5).

Yang dimaksud dengan "tiada memikulnya" pada ayat di atas adalah, tidak mengamalkan isi Taurat. Dalam ayat itu juga Allah mengibaratkan mereka seperti "keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." "Keledai" identik dengan binatang yang bodoh, lamban, dan ia bertambah lamban ketika membawa kitab-kitab yang tebal. Kitab-kitab itu sendiri berisi ilmu pengetahuan yang bermanfaat, namun karena yang membawanya bersifat buruk, jadinya ilmu itu menjadi tidak bermanfaat baginya. Ilmu itu hanya untuk ilmu itu sendiri. Mereka berkutat pada bentuk-bentuk lahiriah semata. Dan inilah yang mengakibatkan mereka menjadi penganut paham materialisme. Semoga kita terhindar dari yang demikian itu.

Dari : http://www.eramuslim.com/

17 May 2007

Sikap Hati-Hati Dan Anak Sholeh

Saya mempunyai seorang teman yang dalam kehidupan kesehariannya sangat hati-hati terhadap apa yang ia kerjakan. Apa yang ia lakukan selalu berpedoman kepada suatu kalimat yang ia pegang: "Allah ridla apa tidak dengan tindakan saya?"
Terus terang saya mengaguminya. Saya ingin menirunya. Namun betapa berat saya mencoba mengikuti langkah-langkahnya. Bicaranya yang sederhana. Penjagaannyaterhadap mata dan telinganya dari sesuatu yang mendatangkan dosa. Sampai-sampai sesuatu yang sangat sederhanapun, ia selalu mengingat bagaimana cara Nabi melakukannya.
Suatu saat saya bertanya padanya. Kenapa engkau bisa seperti itu? Dia menjawab enteng. " Yaa, ini semua bukanlah karena saya, mungkin karena doa orang tua saya." Saya hanya mengangguk-angguk.
Terlintas di pikiran saya tentang sosok orang-orang alim. Sosok orang-orang yang hidupnya telah menyerahkan bulat-bulat kepada Allah SWT. Para Nabi, Sahabat Rasul, dan kekasih-kekasih Allah yang lain. Banyak dari beliau-beliau ini yang mendapat derajat sangat dekat dengan Allah, bukan hanya karena upayanya sendiri, tapi tempaan, didikan, suatu amalan yang konsisten dan langgeng atau munajat orang tuanya kepada Ar-Rabbul Jalil. Sehingga lahirlah anak-anak shaleh.
Saya jadi penasaran dengan orang tua laki-laki ini. Amalan seperti apa yang ia kerjakan sehari-hari selain yang di wajibkan? Doa seperti apa yang ia panjatkan padaNya sehingga melahirkan sosok yang menurut saya adalah termasuk kriteria shaleh ini?
Suatu saat, ketika saya ada kesempatan pulang dari rantau, saya temui orang tua laki-laki ini. Bahkan saya menginap di rumahnya. Saya banyak ngobrol dengannya. Ingin sekali rasanya menimba ilmu dari orang tua yang telah melahirkan profil seperti teman saya itu.
Ternyata beliau ini orang sederhana saja. Seperti kebanyakan orang -orang kampung lainnya. Tak ada sesuatu keistimewaan yang menonjol dari dirinya.
Namanya pak Salim. Ia lebih dikenal orang-orang daerah itu Salim Tempe. Karena ia seorang penjual tempe. Waktu subuh, Maghrib dan Isya, sudah dipastikan ia ada di mushola kampung itu. Sebab ia lebih sering ditunjuk untuk menjadi imam sholat. Walaupun ia sendiri bukanlah imam tetap mushola tersebut.
Namun, walaupun ia orang biasa-biasa saja, bukan ustadz bukan kyai, bukan alumni pesantren apalagi lulusan perguruan tinggi Islam, akan tetapi ada beberapa hal yang membuat beliau ini jadi luar biasa. Paling tidak menurut saya. Dan anehnya, oleh masyarakat sekitar dianggap sesuatu yang tidak umum dan wajar. Memang di zaman ini, jika ada seseorang yang ingin mencoba menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari dianggapnya sebuah keanehan.
Yang pertama, kalau ada pilkades di desanya, ia selalu menolak diberi uang oleh para calon kades, karena ia takut itu suap. Dan ia tahu bahwa, yang menyuap dan yang disuap sama-sama masuk neraka. Maka ia selalu mengingatkan keluarganya jangan sampai mau menerima uang tersebut walaupun sekecil apapun. Sebab di banyak daerah, praktek mendapatkan 'suara' dengan iming-iming uang masih banyak berlaku
Yang kedua, dia selama hidupnya, tidak pernah menyimpan uang di sebuah tempat yang bernama bank konvensional. Sebab ia juga takut, bunga yang ada di dalam lembaga keuangan itu termasuk dalam riba. Sedang ia tahu bahwa riba itu dosa. Ia punya pendapat lebih baik menyimpan uangnya di bawah bantal atau di bawah tikar tidur. Sehingga ketika anaknya dari luar negri mengirimkan uang, ia cepat-cepat mengambilnya, ia takut jadi berbunga-bunga. Ia menggunakan bank sebagai alattransfer saja.
Saya jadi mempunyai sebuah dugaan, barangkali amalan orang tua itulah yang membuat teman saya sangat kuat memegang rambu-rambu agama. Saya tidak sedang mengkultuskan keturunan, tapi sikap kehati-hatian orang tua terhadap hukum-hukum Allah, ternyata sangat menentukan keturunannya.
Dan sejarah mencatat juga, ada seorang perempuan penjual susu. Setiap kali mencampur susu dengan air ia sangat hati-hati. Bahkan setelah mengingat bahwakelak semua yang dilakukan manusia, akan dihisab, ia mengurungkan untuk mencampur susu itu dengan berlebihan. Ia takut susu itu hilang kemurniannya. Sehingga dapat membohongi si pembeli. Dan dengan sikap kehati-hatian perempuan itulah, Allah mengaruniakan seorang anak shaleh. Yang ahirnya ketika tumbuh besar menjadi sosok yang luar biasa. Sosok itu adalah Umar bin Abdul Aziz. Siapa tak kenal khalifah zuhud ini?
Akhirnya, suatu saat saya bertanya kepada diri sendiri. Mampukan saya menjaga kehati-hatian terhadap sesuatu yang sederhana, tapi ternyata betapa besar nilainya di hadapan Allah SWT? Dan mampukah saya bertindak seperti mereka demi menghasilkan anak yang shaleh, sebagai investasi abadi?
Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dengan konsekwensi perjuangan yang luar biasa.
Dari : http://www.eramuslim.com/atk/oim/4428a335.htm

download file format Ms. Word
004 Sikap Hati-Hati dan Anak Sholeh.doc

14 April 2007

Keluarga Tarbiyah, Tarbiyah Keluarga


“De, Mas keluar sebentar ya? Sudah lama tidak ngobrol. Ade tidur dulu kalau sudah ngantuk,” Aku mengangguk dan beranjak ke kamar mandi. Jarum jam sudah melewati angka sebelas. Saat hendak kembali ke kamar, pemandangan di ruang tengah itu menakjubkanku. Pria wanita paro baya dan tiga lelaki gagah tengah bercengkerama bersama di atas tikar. Tiga lelaki perkasa berlomba memijit ayah ibunya sambil berbincang akrab. Aku tak hendak mengganggu kemesraan itu. Setelah sedikit basa-basi aku masuk ke kamar.
Aku tergugu. Ah, semestinya tidak perlu. Ini hanya sedikit cemburu, namun lebih banyak kekaguman. Ini hanya sedikit goresan, namun lebih banyak kebahagian. Bahagia karena aku mendapat kesempatan menjadi bagian dari mereka. Tapi tak urung, air menetes jua dari kedua sudut mata. Kucoba menutup mata, berbaring sendirian di kamar suamiku. Di kamar sebelah, rengekan bayi merah yang belum lagi berusia sebulan kadang-kadang meningkahi. Keponakanku, yang bapaknya juga tengah bergabung di forum ayah ibu anak itu. Namun yang tak bisa terhapus dari gendang telingaku adalah suara-suara rendah dari ruang tengah di depan kamar itu. Gumaman dan canda hangat mereka. Sungguh bahagianya. Iri
****
Sesungguhnyalah, ini hanya satu dari banyak keseharian yang diam-diam menyelipkan kesungkanan di hatiku, selama kurang dari seminggu aku ada di tengah mereka. Keluarga suamiku. Bukan kesungkanan yang berawal dari ketidakenakan, namun kesungkanan yang berakar kekaguman dan respek atas akhlak yang terpancar dari tingkah laku. Bukan kesungkanan yang bersumber dari ketakutan, tapi karena malu atas diri yang masih begitu banyak memiliki kekurangan.
Dan peristiwa malam ini, adalah puncak dari segala kekaguman sekaligus keirianku, selama kurang lebih seminggu aku ada di sana. Rasanya, tidak pernah kutemui sesuatu yang tidak Islami di sana. Tidak kutemui sesuatu yang tidak mengenakkan antara satu dan lainnya.
1. Tak ada satupun praktek-praktek yang menjurus ke arah mistis dan kesyirikan. Segala sesuatu hanya mereka jalankan berlandaskan aqidah dan syariah Islam. 2. Salam terlantun dan jabat tangan erat diberikan setiap kali salah satu penghuni rumah ini berangkat atau pulang dari bepergian keluar kampung, meski hanya beberapa kilometer. Bahkan, Ibu dan Eyang selalu melengkapi dengan doa. 3. Gegas langkah berpacu menuju masjid setiap kali azan berkumandang. Namun tak lupa mereka bergantian menyisakan satu orang untuk shalat jama’ah di rumah menemani Eyang yang tak lagi kuat. 4. Lantunan ayat-ayat Qur’an nan indah bersautan tiap ba’da maghrib atau subuh. Bukan hanya indah, tapi juga tartil. Sesuatu yang selalu membuatku rela berlama-lama tertunduk mendengarkan. 5. Aurat yang selalu terjaga di segala waktu dan kesempatan. 6. Bakti dan penghormatan yang begitu takzim bagi orang tua. Kamar Eyang selalu menjadi pilihan utama untuk tempat bercengkerama. 7. Tak ada nada-nada tinggi maupun kosa kata rendah dalam perbincangan sehari-hari. Bahkan sekedar bahasa prokem pun tiada. Semua kalimat meluncur santun dari setiap lisan. Tapi toh, itu semua tidak mengurangi keakraban di antara mereka. Satu dengan yang lainnya saling mengetahui dan membicarakan setiap permasalahan anggota keluarga. 8. Semua anggota keluarga sigap dan saling membantu pekerjaan rumah tangga, tanpa diminta apatah lagi diperintah. Tak ada istilah aktifitas domestik adalah tanggung jawab seorang ibu, satu-satunya perempuan di keluarga itu. Maka rumah sederhana itu selalu tampak bersih dan rapi. 9. Silaturahim yang begitu akrab dengan kerabat. Hanya dalam waktu seminggu, rasanya sudah seluruh penghuni kampung kecil itu kukunjungi dan kukenali. 10. Kepedulian yang begitu nyata terhadap tetangga dan orang lain, serta kegiatan sosial. 11. Perhatian yang ketat terhadap kehalalan makanan, baik zat maupun cara perolehannya. 12.....Apalagi?
Baris-baris di atas hanya setitik dari keseharian mereka yang kutangkap secara kasat mata dalam waktu seminggu, namun sanggup mematrikan kesan mendalam di benakku. Keluarga ini, sungguh mencerminkan sebuah keluarga Islami yang sesungguhnya. Sibghatullah (celupan Allah) itu mewarnai mereka hingga ke tulang sumsum dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu semua adalah buah penghayatan akan Islam. Dan semua itu adalah hasil tarbiyah (pendidikan) Islamiyah yang turun temurun mereka jalankan penuh kesungguhan. Tarbiyah Islamiyah yang dibangun di atas pemahaman yang benar. Tarbiyah dalam keseharian yang menginspirasiku: Akan kudidik anak-anakku dan kubangun keluargaku dengan bercermin pada mereka.
***
Sebuah kamar yang sangat sederhana, namun penuh kehangatan cinta. Kamar bapak ibu mertuaku. Malam itu, adalah malam terakhir kami di kampung pasca pernikahan, sebelum esoknya berangkat ke Jakarta. “Anak-anakku. Bapak dan ibu tidak punya apa-apa sebagai sangu, kecuali pesan-pesan ini. Bapak yakin, kalian berdua sudah mengerti, tapi tidak ada salahnya kalau kami mengingatkan kembali. Anggaplah ini sedikit bekal hidup berumahtangga dan bermasyarakat nanti. Pertama, satu hal yang sangat bapak pesankan, jaga shalat kalian. Sesungguhnya shalat itu pokoknya ibadah. Jika rusak shalat kalian, maka rusaklah semua amal kalian. Maka sekali lagi bapak pesankan, jaga shalat kalian baik-baik, jangan sampai bolong. Bila dapat selalu tepat waktu dan berjamaah untuk shalat wajibnya. Perbanyak shalat sunnahnya...,” Sepi sejenak membawa jeda. “Yang kedua, perbanyak teman, jangan perbanyak musuh. Di perantauan, keluarga kalian adalah tetangga terdekat kalian, bukan kita yang di kampung. Maka jaga hubungan baik dengan tetangga. Sesungguhnya pagar mangkok lebih baik daripada pagar tembok. Terus yang ketiga, jangan lupa berzakat dan infaq berapa pun pendapatan kalian. Sesungguhnya dalam setiap harta kita terdapat hak orang lain. Insya Allah, keberkahan akan dilimpahkanNya bagi harta yag senantiasa dibersihkan....”Laki-laki itu terdiam sejenak, kemudian menoleh ke wanita baya di sebelahnya. “Ibu ada yang mau ditambahkan?”
“Ibu cuma mau tambahkan satu hal: usahakan membaca Qur'an tiap hari, meski hanya beberapa ayat. Bacaan Quran di rumah kita akan membuat rumah kita adem dan tentrem. Bahkan sekalipun Genduk dan Thole terlalu lelah. Minimal lafalkan seayat dua ayat menjelang tidur jika tidak sempat membuka mushaf...,”Aku tertunduk khusyuk. Mencoba mencerna kata demi kata yang mengalir sejuk itu. Menikmati dentam-dentam kekaguman yang kian menggunung dalam dada. Betapa bahagia aku menjadi bagian dari mereka. Dan tentu saja, betapa beruntung aku dapat belajar langsung dari keseharian mereka.

Artikel ini diambil dari sini.
Download file format Ms.Word
003 Keluarga Tarbiyah.doc